BANTUL, TIALORAYA.id- Pendakwah kondang sekaligus pendiri Pondok Pesantren Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah, kembali melontarkan kritik pedas terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan.
Ia mengingatkan seluruh pihak, mulai dari pejabat hingga petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar menjalankan amanah ini dengan benar dan tidak menjadikannya sekadar proyek mencari untung.
Dalam acara Kenalan Bersholawat yang digelar di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (7/6/2026), Gus Miftah menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan pribadi dalam program ini. Bahkan, ia berani bersumpah.
“Saya siap diaudit dunia akhirat, anak dan istri saya haram masuk surga kalau saya punya satu titik dapur SPPG,” tegas Gus Miftah.
Gus Miftah mengungkapkan, di awal rencana program ini, dirinya sempat memaparkan dalil dan keutamaan memberikan makan kepada anak-anak dan orang miskin kepada Presiden Prabowo Subianto.
Semua rujukan hadis tersebut, menurutnya, telah disampaikan langsung ke Hambalang. Oleh karena itu, ia menyayangkan jika ada penyelewengan dalam pelaksanaan MBG.
Gus Miftah mengingatkan adanya doa masyarakat yang terkhianati akibat tindakan tersebut.
“Ingat ya mitra-mitra MBG, dapur se-Indonesia, doa orang miskin itu manjur, doa rakyat yang terzalimi itu mustajab. Sekali kamu berani makan hak mereka, darah dan dagingmu haram masuk surganya Allah SWT,” ujar Gus Miftah
Ia menilai, MBG merupakan program yang sangat baik dari Presiden. Namun, sayangnya, keberadaan program ini dirusak oleh oknum-oknum yang ia sebut sebagai pengkhianat berlabel pejabat.
“Kurang baik apa program Pak Prabowo? Saya kalau lihat beliau, ‘Orang ini kurang ikhlas apa? Orang ini kurang baik apa?’ Ternyata begitu banyak pengkhianat yang justru berlabel pejabat,” sambungnya.
Miftah juga tidak luput menyoroti perilaku para petugas SPPG yang beberapa kali viral di media sosial karena persoalan sepele yang justru memicu kemarahan publik. Ia menyayangkan perilaku oknum yang asyik bermain TikTok dan berjoget di dapur MBG, sementara gizi anak-anak sedang dipertaruhkan.
“Sudah seperti itu kok masih bermain dengan gizi anak-anak. Kayak sekarang ini mancing-mancing SPPG main TikTok sambil berjoget,” ungkap Gus Miftah.
Tindakan-tindakan semacam ini, menurutnya, pada akhirnya hanya akan merusak citra Presiden, meskipun kesalahan terletak pada pelaksana di lapangan.
“Jadi kan yang rusak kelakukan SPPG, tapi yang disalahkan Presidennya. Nggak fair itu,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gus Miftah menekankan perbedaan mendasar antara program dan proyek. Ia menegaskan bahwa MBG adalah program yang berorientasi pada tujuan, bukan untuk mencari keuntungan semata.
“MBG itu program, bukan proyek. Saya sudah menyindir itu. Apa bedanya program sama proyek? Program itu orientasinya sesuai tujuan awal. Tujuan Pak Prabowo buat MBG untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia, yang tadinya kurang gizi diharapkan nambah gizinya. Outputnya generasi Indonesia lebih maju,” paparnya.“
Tapi kalau proyek, tujuan mereka mencari untung,” tuturnya.
Gus Miftah mengibaratkan, jika dalam sebuah rumah terdapat kerusakan pada pintu, maka jalan keluarnya adalah memperbaiki pintu tersebut, bukan merobohkan rumahnya.
“Kalau rumah pintunya rusak, yang perlu dibenerin pintunya apa rumahnya dirobohkan? Pintunya yang dibenerin, bukan rumahnya yang dirobohkan,” ucapnya.
“Kalau programnya ini ada yang salah, programnya yang dihentikan atau salahnya yang diperbaiki? Salahnya yang diperbaiki. Dan perlu diingat, MBG itu program, bukan proyek,” ucap Gus Miftah.





